Keadaan ekonomi Aceh.
Aceh merupakan salah satu provinsi yang bias dikatakan besar di wilayah negara Indonesia.Aceh juga mempunyai SDA yang luar biasa namun juga memiliki penduduk yang masih relatif tidak begitu padat namun dibalik hal positif diatas provinsi NAD kurang dalam memenuhi SDM yang berkualitas baik,oleh karena itu langsung berdampak pada keadaan ekonominya dimana uang sulit untuk terus berputar di picu juga oleh tingkat inflasi yang lumayan tinggi.Namun kita sadari bahwa SDA yang ada di Aceh sendiri tidak digunakan dengan baik oleh masyarakat Aceh.Seharusnya lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk membentuk sirkulasi ekonomi yang lancar begitu juga dengan sektor peternakan,kita ketahui peternakan di Aceh menjadi salah satu peternakan terbaik yang ada di wilayah Indonesia.
Penggunaan anggaran.
Kita berkaca pada penggunaan anggaran pada tahun 2010 dapat dikatakan kurang efisien,ini dapat dilihat dari ICOR yang dikaji pusat statistic Aceh tahun 2010 yaitu mencapai angka 4,64.ICOR sendiri digunakan untuk melihat tingkat efesiensi penggunaan anggaran suatu daerahuntuk menunjukkan besarnya tambahan investasi baru yang dibutuhkan untuk menambah satu unit output.
Berikut data ICOR Aceh:
Pada tahun 2002-2006 mencapai angka 5.09
Pada tahun 2009 mencapai angka 4.36
Pada tahun 2010 berada pada angka 4.64.
Idealnya untuk negara berkembang ICOR berada dibawah angka 4.
Dalam menelaah fakta tersebut diakibatkan lemahnya pengawasan dari pemerintah dalam hal penggunaan anggaran untuk pembangunan fisik.Angka diatas menunjukkan tidak efisiensinya penggunaan anggaran Aceh yang disebabkan beberapa hal seperti penggunaan anggaran untuk pembangunan fisik yang tidak sesuai kebutuhan.
Tingkat kemiskinan di Aceh.
2 juli 2010 penduduk miskin di Aceh turun sekitar 20,98%.ini dihitung pada konsumsi penduduk.dimana seorang warga harus mengkonsumsi 2100 kalori selama sebulan oleh karena demikian maka diharapkan kondisi ini terus berlanjut hingga mencapai Rp.308.000/ Vmlan per orang.Sedangkan penduduk desa harus mengkonsumsi kalori seharga Rp.266.000/bulan per orang.
Dengan kondisi seperti ini menggambarkan adanya perbaikan pada tingkat konsumsi masyarakat miskin di Aceh,dimana penurunan presentase penduduk miskin di desa lebih tinggi diabanding pada daerah kota.yakni masing masing 0.83% dan 0.79%.
Persepsi atas kondisi ekonomi yang optimis terjadi pada triwulan IV 2011 tetap didorong oleh faktor peningkatan pendapatan rumah tangga kemudian diikuti penagaruh tingkat inflasi yang lebih rendah,sehingga tingkat konsumsi rumah tangga terhadap komoditi makanandan bukan makanan meningkat.
Oleh karena itu kata miskin untuk daearah Aceh tidak pernah terpisahkan dikarenakan tingkat kebutuhan yang berbeda secara besar dalam masyarakat Aceh,faktor pengangguran yang tinggi dan orang dari desa terus menerus ingin mengadu nasib dikota dan hanya sebagian kecil saja yang bias dikatakan memenuhi ekspektasi dengan demikian lahan lahan yang ditinggalkan menjadi terbengkalai dan tidak bermanfaat.Dan sisa dari mereka akan menajdi tunggang langgang di perkotaan inilah yang menjadi jawaban dari judul diatas.Daerah Aceh masih dikatakan miskin dan menduduki peringkat ke 7 termiskin di wilayah negara Indonesia dari 33 provinsi.persepsi yang salah kemudian kesalahan penggunaan anggaran menajdikan Aceh tak luput dari kata kemiskinan.Dan memamng kenyataannya daerah Aceh secara keseluruhan dapat dikatakan miskin.